Thursday, March 6, 2014

براف كالي .............



كم مرة ذكر (??) فى القرآن الكريم احصائات متعدده بالقران الكريم 


ذكرت البسملة في القران الكريم (114) مرة . 
.ذكرت كلمة الله في القران الكريم (2699) مرة. 

ذكرت كلمة الجنة في القران الكريم (66)
ذكرت كلمة النار في القران الكريم (126) مرة . 

ذكرت الأرض في القران الكريم (88) مرة .
ذكرت الملائكة في القران الكريم (68) مرة .

ذكرت الشياطين في القران الكريم (68)مرة .
ذكر سيدنا محمد عليه الصلاة والسلام في القران الكريم (4)مرة. 

ذكر سيدنا عيسى عليه الصلاة والسلام في القران الكريم (25) مرة. 
ذكر سيدنا موسى عليه الصلاة والسلام في القران الكريم (136)مرة.

ذكر سيدنا إبراهيم عليه الصلاة والسلام في القران الكريم (69)مرة. 
ذكر سيدنا نوح عليه الصلاة والسلام في القران الكريم (43)مرة.

ذكر سيدنا سليمان عليه الصلاة والسلام في القران الكريم (17)مرة.
ذكر سيدنا أدم عليه الصلاة والسلام في القران الكريم (25)مرة.

ذكر سيدنا يونس عليه الصلاة والسلام في القران الكريم (6)مرة.
ذكر سيدنا داود عليه الصلاة والسلام في القران الكريم (16)مرة.

ذكر سيدنا أيوب عليه الصلاة والسلام في القران الكريم (4) مرة.
ذكرت الهمزة في القران الكريم (497)مرة . 

ذكر إبليس في القران الكريم (11)مرة. 
ذكرت جهنم في القران الكريم(77)مرة.

ذكرت الآخرة في القران الكريم (115)مرة. 
ذكرت الدنيا في القران الكريم (115)مرة. 

ذكر الإنسان في القران الكريم (63)مرة.
ذكر بني أدم في القران الكريم (6)مرات.

ذكرت كلمة الناس في القران الكريم (240)مرة. 
ذكر جبريل في القران الكريم (3)مرات.
ذكر الحجاب في القران الكريم (7)مرات. 

ذكرت كلمة حدائق في القران الكريم (3)مرات.
ذكر الحديد في القران الكريم(6)مرات.

ذكر الحوت في القران الكريم (4) مرات.
ذكرت الخيل في القران الكريم(5) مرات.

ذكر الذئب في القران الكريم (1)مرة . 

ذكرت الشمس في القران الكريم (33)مرة. 
ذكرت الرياح في القران الكريم(10)مرات.
ذكرت كلمة الجاهلية في القران الكريم(4)مرات.

ذكرت كلمة رمضان في القران الكريم (1) مرة. 
ذكرت العنكبوت في القران الكريم(2)مرة.

ذكر الغراب في القران الكريم (2) مرة.
ذكرت كلمة فاكهة في القران الكريم(11) مرة. 
ذكر فرعون في القران الكريم (74)مرة.

ذكر هارون في القران الكريم (4)مرات.
ذكر القران في القران الكريم (70)مرة.
ذكرت القيامة في القران الكريم (70)مرة.
ذكرت الكعبة في القران الكريم (2)مرة.

ذكرت الكواكب في القران الكريم(2)مرة.
ذكر الفيل في القران الكريم(1)مرة.
ذكر جالوت في القران الكريم (3)مرات.
ذكر فرقان في القران الكريم (7)مرات.

ذكر غلام في القران الكريم (12)مرة..

ذكر الكهف في القران الكريم(6)مرات



ياتى زمان على امتى من كان قابض فيهم على دينه كمن كان قابض على جمرة من نار
وهذا حديث احببت ان اذكركم به احبائى فى الله 
ارجوا من الله ان يجعلنا مما يسمعون القول فيتبعون احسنة

Makna Kalimat Lâ Ilâha illal


Mengetahui makna kalimat yang mulia ini merupakan salah satu prinsip yang sangat mendasar pada ‘aqidah seorang muslim. Bagaimana tidak, karena jika seseorang mengucapkan kalimat tauhid ini maka dia tidak akan bisa melaksanakan konsekuensinya sebelum mengetahui apa maknanya serta dia tidak akan mendapatkan berbagai keutamaan kalimat yang mulia ini sampai dia mengetahui apa maknanya, mengamalkannya dan meninggal di atasnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa`at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa`at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dalam keadaan mereka mengetahui(nya).” (QS. Az-Zukhruf: 86)
Dan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam telah menegaskan:
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengatahui bahwa sesungguhnya tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah maka akan masuk Surga.” (HSR. Bukhary dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Oleh karena itu, berikut penjelasan secara singkat mengenai makna kalimat tauhid yang mulia ini:
Laa Ilaaha Illallah adalah kalimat yang terdiri dari 4 kata, yaitu: kata (laa), kata (Ilaha), kata (illa) dan kata (Allah). Adapun secara bahasa bisa kita uraikan secara ringkas sebagai berikut:
  • Laa adalah nafiyah lil jins (Meniadakan keberadaan semua jenis kata benda yang datang setelahnya). Misalnya perkataan orang Arab “Laa rojula fid dari” (Tidak ada laki-laki dalam rumah) yaitu menafikan (meniadakan) semua jenis laki-laki di dalam rumah. Sehingga laa dalam kalimat tauhid ini bermakna penafian semua jenis penyembahan dan peribadahan yang haq dari siapapun juga kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
  • Ilaadalah mashdar (kata dasar) yang bermakna maf’u(obyek) sehingga bermakna ma`l uh yang artinya adalah ma’bud(yang diibadahi). Karena aliha maknanya adalah ‘abada sehingga makna ma’luh adalah ma’bud. Hal ini sebagaimana dalam bacaan Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma terhadap ayat 127 pada surah Al-A’raf:

وَقَالَ الْمَلأُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ أَتَذَرُ مُوْسَى وَقَوْمَهُ لِيُفْسِدُوْا فِيْ الْأََرْضِ وَيَذَرَكَ وَإِلَهَتَكَ

Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun (kepada Fir’aun): “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta ilahatahmu (peribadatan kepadamu)?”.
Il ahat aka (ilahatahmu) yaitu peribadatan kepadamu, karena Fir’aun itu disembah dan tidak menyembah. Hal ini menunjukkan bahwa Ibnu ‘Abbas memahami bahwa kata Ilahah artinya adalah Ibadah
  • Illa (kecuali). Pengecualian di sini adalah mengeluarkan kata yang terletak setelah illa dari hukum kata yang telah dinafikan oleh laa. Misalnya dalam contoh di atas laa rajula fid dari illa Muhammad, yaitu Muhammad (sebagai kata setelah illa) dikeluarkan (dikecualikan) dari hukum sebelum illa yaitu peniadaan semua jenis laki-laki di dalam rumah, sehingga maknanya adalah tidak ada satupun jenis laki-laki di dalam rumah kecuali Muhammad. Jika diterapkan dalam kalimat tauhid ini makna maknanya adalah bahwa hanya Allah yang diperkecualikan dari seluruh jenis ilah yang telah dinafikan oleh katalaa sebelumnya.
  • Lafadz “Allah” asal katanya adalah Al-Ilah dibuang hamzahnya untuk mempermudah membacanya, lalu lam yang pertama diidhgamkan (digabungkan) pada lam yang kedua maka menjadilah satu lam yang ditasydid dan lam yang kedua diucapkan tebal sebagaimana pendapat Imam Al-Kisa`i dan Imam Al-Farra` dan juga pendapat Imam As-Sibawaih.
Adapun maknanya, berkata Al-Imam Ibnu Qoyyim dalam Madarij As-Salikin (1/18) : “Nama “Allah” menunjukkan bahwa Dialah yang merupakan ma’luh (yang disembah) ma’bud (yang diibadahi). Seluruh makhluk beribadah kepadanya dengan penuh kecintaan, pengagungan dan ketundukan”.
Lafadz jalalah “Allah” adalah nama yang khusus untuk Allah saja, adapun seluruh nama-nama dan sifat-sifat Allah yang lainnya kembali kepada lafadz jalalah tersebut. Karena itulah tidak ada satupun dari makhluk-Nya yang dinamakan Allah.
Kemudian dari perkara yang paling penting diketahui bahwa Laa ini –sebagaimana yang telah diketahui oleh semua orang yang memiliki ilmu bahasa Arab- membutuhkan isim dan khobar sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Malik dalam Alfiyahnya:
عَمَلَ إِنَّ اجْعَلْ لِلاَ فِي نَكِرَه ……..
“Jadikan amalan Inna (menashab isim dan merafa’ khobar) untuk laa bila isimnya nakirah.”
Isim laa adalah kata ilaha, adapun khobarnya, disinilah letak perselisihan manusia dalam penentuannya. Adapun yang dipilih oleh para ulama As-Salaf secara keseluruhan adalah bahwa khobarnya (dibuang) oleh karena itulah harus menentukan khobarnya untuk memahami maknanya dengan benar. Dan para ulama Salaf sepakat bahwa yang dibuang tersebut adalah kata haqqun ataubihaqqin (yang berhak disembah), dengan dalil firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Luqman ayat 30:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ البَاطِلُ وَأَنََّ اللهَ هُوَ العَلِيُّ الكَبِيْرُ

“Yang demikian itu karena Allahlah yang hak (untuk disembah) dan apa saja yang mereka sembah selain Allah maka itu adalah sembahan yang batil dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Dan mirip dengannya dalam surah Al-Hajj ayat 62.
Maka dari seluruh penjelasan di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa makna Laa ilaaha illallah adalah tidak ada sembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah. Maka kalimat tauhid ini menunjukkan akan penafian/penolakan/peniadaan semua jenis penyembahan dan peribadahan dari semua selain Allah Ta’ala, apa dan siapapun dia, serta penetapan bahwa penyembahan dan peribadahan dengan seluruh macam bentuknya –baik yang zhohir maupun yang batin- hanya ditujukan kepada Allah semata tidak kepada selainnya. Oleh karena itu semua yang disembah selain Allah Ta’ala memang betul telah disembah, akan tetapi dia disembah dengan kebatilan, kezholiman, pelampauan batas dan kesewenang-wenangan. Inilah makna yang dipahami oleh orang-orang Arab –yang mukmin maupun yang kafirnya- tatkala mereka mendengar perkataanlaa ilaha illallah sebagaimana yang akan datang penjelasannya insya Allah Ta’ala.
Berikut sebagian perkataan para ulama yang menunjukkan benarnya apa yang telah kami paparkan:
  • Berkata Al-Wazir Abul Muzhoffar dalam Al-Ifshoh: “Lafazh “Allah” sesudah “illa” menunjukkan bahwasanya penyembahan wajib (diperuntukkan) hanya kepada-Nya, maka tidak ada (seorangpun) selain dari-Nya yang berhak mendapatkannya (penyembahan itu)”. Dan beliau juga berkata : “Dan termasuk faedah dari hal ini adalah hendaknya kamu mengetahui bahwa kalimat ini mencakup kufur kepada thaghut (semua yang disembah selain Allah) dan beriman hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka tatkala engkau menafikan penyembahan dan menetapkan kewajiban penyembahan itu hanya kepada Allah subhanahu maka berarti kamu telah kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah”.
  • Berkata Imam Ibnu Rajab: “Al-Ilaadalah yang ditaati dan tidak didurhakai karena mengagungkan dan memuliakan-Nya, merasa cinta, takut, berharap dan bertawakkal kepada-Nya, meminta dan berdo’a pada-Nya. Dan semua ini tidak boleh kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka siapa yang mengikutsertakan makhluk-Nya pada salah satu dari perkara-perkara yang merupakan kekhususan penyembahan (ibadah) ini maka dia telah merusak keikhlasannya dalam kalimat Laa Ilaaha Illallah. Dan padanya terdapat peribadatan kepada makhluk (kesyirikan) yang kadarnya sesuai dengan banyak atau sedikitnya hal-hal tersebut terdapat padanya.”
  • Berkata Al-Imam Al-Baqo`iy: “Laa Ilaaha Illallah yaitu peniadaan yang besar dari menjadikan yang diibadahi yang benar selain Raja yang paling mulia karena sesungguhnya ilmu ini, khususnya Laa Ilaahaa Illallah adalah peringatan yang paling besar yang menolong dari keadaan hari kiamat dan sesungguhnya menjadi ilmu jika bemanfaat, dan menjadi bermanfaat jika disertai dengan ketundukan dan beramal dengan ketentuannya. Kalau tidak maka itu adalah kebodohan semata.”
Berkata Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh: “Dan ini banyak dijumpai pada perkataan kebanyakan ulama salaf dan merupakan ‘ijma (kesepakatan) dari mereka. Maka kalimat ini menunjukkan penafian penyembahan terhadap segala apa saja selain Allah bagaimanapun kedudukannya. Dan menetapkan penyembahan hanya kepada Allah saja semata. Dan ini adalah tauhid yang didakwahkan seluruh Rasul dan ditunjukkan oleh Al-Qur’an dari awal sampai akhirnya.”
Dari penjelasan di atas diketahui bahwa kalimat Laa Ilaaha Illallah mengandung dua rukun asasi yang harus terpenuhi sebagai syarat diterimanya syahadat seorang muslim yang mengucapkan kalimat tersebut:
Pertama: An-Nafyu (penafian/penolakan/peniadaan) yang terkandung dalam kalimat Laa Ilaaha. Yaitu menafikan, menolak dan meniadakan seluruh sembahan yang berhak untuk disembah bagaimanapun jenis dan bentuknya dari kalangan makhluk, baik yang hidup apalagi yang mati, baik malaikat yang terdekat dengan Allah maupun Rasul yang terutus terlebih lagi makhluk yang derajatnya di bawah keduanya.
Kedua: Al-Itsba(penetapan) yang terkandung dalam kalimat Illallah. Yaitu menetapkan seluruh ibadah baik yang lahir seperti sholat, zakat, haji, menyembelih dan lain-lain maupun yang batin seperti tawakkal, harapan, ketakutan, kecintaan dan lain-lain. Baik dari ucapan seperti dzikir, membaca Al-Qur’an berdoa dan sebagainya maupun perbuatan seperti ruku dan sujud sewaktu sholat, tawaf dan sa`i ketika haji dan lain-lain hanya untuk Allah saja.
Maka syahadat seseorang belumlah benar jika salah satu dari dua rukun itu atau kedua-duanya tidak terlaksana. Misalnya ada orang yang hanya meyakini Allah itu berhak disembah (hanya menetapkan) tetapi juga menyembah yang lain atau tidak mengingkari penyembahan selain Allah (tidak menafikan).
Berikut penyebutan beberapa ayat Al-Qur`an yang menerangkan dua rukun laa ilaha illallah ini:
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطاَّغُوْتِ وَيُؤْمِنْ باِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ باِلْعُرْوَةِ الْوُثْقاَ لاَ انفِصاَمَ لَهـاَ
“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS. Al-Baqarah: 256).
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ. إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ
“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.”(QS. Az-Zukhruf: 26-27)
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (QS. An-Nis a`: 36)
Untuk melaksanakan makna inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan jin dan manusia serta langit dan bumi sebagai fasilitas buat mereka:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dz ariy at: 56)
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (QS. Al-Baqarah: 29)
Karenanya Allah mengutus para Rasul ‘alaihimush Sholatu was Salam:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. (QS. An-Nahl: 36)
وَ مَا أَرْسَلْنَاَ مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِيْ إِلَيْهِ أَنَّهُ لآَ إِلهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan kami mewahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al-Anbiya`: 25).
وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِنْ دُونِ الرَّحْمَنِ ءَالِهَةً يُعْبَدُونَ
“Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: “Adakah Kami menentukan sembahan-sembahan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?” (QS. Az-Zukhruf: 45)
Dan karenanya pulalah Allah Ta’ala menurunkan kitab-kitabNya:
الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ ءَايَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ. أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ
“Alif Laam Raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu, agar kamu tidak menyembah selain Allah.” (QS. Hud: 1-2)
إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar: 2)
Inilah kesimpulan makna dari kalimat tauhid yang agung dan mulia ini. Makna inilah yang dipahami oleh para shahabat dan para ulama yang datang setelah mereka sampai hari ini bahkan makna inilah yang diyakini dan dipahami oleh kaum musyrikin Quraisy di zaman Nabi Shollallahu ‘alai wa ‘ala alihi wasallam semisal Abu Jahl, Abu Lahab dan selainnya, sebagaimana yang diungkap oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pencipta mereka:
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ. وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ
“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada sembahan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?.” (QS. Ash-Shoffat: 35-36)
أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ
“Mengapa ia menjadikan sembahan-sembahan itu sembahan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shod: 5)
Maka lihatlah –semoga Allah merahmatimu- bagaimana jawaban kaum musyrikin tatkala diperintah mengucapkan kalimat tauhid, spontan mereka menolak karena sangat mengetahui apa makna dan konsekwensi kalimat ini yaitu harusnya meninggalkan semua sembahan mereka dan menjadikannya hanya satu sembahan yaitu hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka betapa celakanya seseorang yang mengaku muslim yang Abu Jahl lebih tahu dan lebih faham tentang makna laa Ilaha illalladaripada dirinya.Wallahul musta’an.
{Lihat: Fathul Majid hal. 52-54 dan Kifayatul Mustazid bisyarhi Kitabit Tauhid Bab. Tafsirut Tauhid karya Syaikh Sholih Alu Asy-Syaikh}
Berkata Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah dalam Majmu’ Fatawabeliau (2/5): “Sesungguhnya saya telah melihat tulisan yang ditulis oleh saudara kita di jalan Allah Al-‘Allamah Asy-Syaikh ‘Umar bin Ahmad Al-Malib ary tentang makna laa ilaha illallah, dan saya memperhatikan apa yang beliau jelaskan tentang pendapat 3 kelompok dalam maknanya. Dan penjelasannya:
Pertama: Laa Ma’buda bihaqqin illalla(Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah).
Kedua: Laa Mutho’a bihaqqin illalla(Tidak ada yang berhak ditaati kecuali Allah).
Ketiga: Laa Roba illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah).
Dan yang benar adalah (makna) yang pertama sebagaimana yang beliau jelaskan. Dan (makna) inilah yang ditunjukkan oleh Kitab Allah Subhanahu dalam beberapa tempat dalam Al-Qur`anul Karim, seperti dalam firmanNya Subhanahu:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)
Dan firmanNya ‘Azza wa Jalla:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra`: 23)
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Hajj: 62)

Sunday, March 2, 2014

Pentas ::::::::Menuju reda Allah////////


Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk meraih keridhaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hamba-Nya”. (Al-Baqarah: 207)
Setiap orang ingin merasa bahagia. Hanya saja tidak semua orang tahu bagaimana cara meraih kebahagiaan. Ada yang berfikir bahwa bahagia bisa dirasakan ketika seseorang memiliki banyak harta. Dengan harta yang melimpah, kekuasaan mudah didapat, segala kebutuhan jasmani dan rohani bisa terpenuhi. Kebahagiaan bisa dibeli, begitu kira-kira. Pola pikir semacam ini ada benarnya, tapi tidak tepat. Tidak perlu jauh-jauh untuk membuktikannya, lihat saja ke sekeliling kita, atau bacalah berita di berbagai media massa. Jika harta yang dijadikan tujuan untuk bisa merasa bahagia, maka hasilnya bisa dilihat: korupsi di mana-mana, pencurian, perampokan, dan penipuan selalu terjadi berulang-ulang.
Sebagian lain menyangka bahwa kebahagiaan itu hanyalah fatamorgana, khayalan, dan ilusi manusia semata. Kenyataan hidup yang mereka alami tidak pernah membuktikan adanya kebahagiaan yang bertahan lama. Semua serba sesaat dan sementara belaka. Dugaan yang seperti ini kemudian melahirkan manusia-manusia yang mengejar pemuasan hawa nafsu. Ketika nafsu itu terpenuhi mereka merasa puas dan bahagia, meski hanya sesaat. Hasilnya dapat kita lihat: perzinaan, penggunaan narkoba, mabuk-mabukan, dan penyimpangan moral lainnya merebak di mana-mana.
Di sinilah cahaya Islam dibutuhkan untuk menerangi hidup manusia agar benar-benar bisa hidup damai, tentram, dan penuh dengan kebahagiaan. Salah satu cara agar kita bisa merasakan kebahagiaan yang hakiki adalah dengan ridha Allah. Kalau Allah ridha, maka kehidupan kita seluruhnya tidak lain hanyalah kebahagiaan, baik itu duniawi dan ukhrawi. Jalan untuk mencapai ridha Allah adalah dengan cara membuat diri kita sendiri ridha dengan semua ketentuan Allah. Ini tidak mudah, oleh karena itu butuh usaha keras dan pengorbanan sebagaimana yang telah disebutkan dalam kutipan ayat di awal tulisan ini.
Keutamaan Ridha Allah
Kata ridha berasal dari bahasa Arab ra-dhi-ya yang berarti: rela, senang, suka, perkenan, menerima dengan sepenuh hati, dan menyetujui secara penuh. Secara istilah, ridha dapat diartikan sebagai sikap suka dan lapang dada terhadap sesuatu. Kata ini bisa dikaitkan dengan Allah dan manusia. Jika dikaitkan dengan Allah, maka ridha Allah merupakan bentuk dukungan, rahmat, dan keberkahan terhadap sesuatu. Kalau dikaitkan dengan manusia, ridha berarti menerima segala hal yang terjadi pada dirinya. Kata padanannya (sinonim) adalah ikhlas dan lapang dada. Ridha inilah yang menjadi kunci bagi kebahagiaan hakiki yang dapat kita rasakan di dunia dan akhirat.
Keutamaan dari keridhaan Allah ini disebut-sebut dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Di antaranya adalah menghasilkan keuntungan dua kali lipat (Al-Baqarah: 265), orang yang mengikuti keridhaan Allah tidak mendapat bencana, tapi malah mendapat nikmat serta karunia yang besar (Ali Imran: 174), pahala yang besar (An-Nisa: 114), ampunan dan pahala yang besar (Al-Fath: 29). Janji Allah berupa surga sebagai tempat kesudahan yang baik diperuntukkan bagi mereka yang mendapatkan ridhaNya. Bahkan bagi sebagian Muslim yang menempuh jalan penyucian diri (sufi), keutamaan-keutamaan dari keridhaan Allah bukanlah apa-apa dibanding dengan ridha Allah itu sendiri. Bagi para sufi, ridha Allah itulah yang dikejar dan mereka pun ridha atas apapun yang Allah berikan, baik itu berupa nikmat atau cobaan. 
 “Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya”, kalimat ini terdapat di dalam surat Al-Maidah: 119, At-Taubah: 100, Al-Mujadalah: 22, dan Al-Bayyinah: 8. Dalam tafsir Muyassar, kalimat itu berarti: Allah menerima semua amal shaleh hamba-hambaNya, dan mereka pun ridha dengan segala karunia yang Allah berikan kepada mereka. Keterangan serupa dalam tafsir Sa’di menyebut bahwa Allah menerima segala amalan yang diridhaiNya. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa tingkatan ridha Allah itu lebih tinggi dari nikmat yang Dia anugerahkan kepada hambaNya. Dengan kata lain, nikmat yang kita rasakan saat ini belum ada apa-apanya dibanding dengan ridha Allah kepada kita. Hal ini sebagaimana disebut dalam surat At-Taubah ayat 72, “Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar”.
Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.: Bahwa Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya Allah berfirman kepada penghuni surga: Hai penghuni surga! Mereka menjawab: Kami penuhi seruan-Mu wahai Tuhan kami, dan segala kebaikan ada di sisi-Mu. Allah melanjutkan: Apakah kalian sudah merasa puas? Mereka menjawab: Kami telah merasa puas wahai Tuhan kami, karena Engkau telah memberikan kami sesuatu yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun dari makhluk-Mu. Allah bertanya lagi: Maukah kalian Aku berikan yang lebih baik lagi dari itu? Mereka menjawab: Wahai Tuhan kami, apa yang lebih baik dari itu? Allah menjawab: Akan Aku limpahkan keridaan-Ku atas kalian sehingga setelah itu Aku tidak akan murka kepada kalian untuk selamanya. (HR. Muslim)
Bagaimana Cara Mencapai Ridha?
Kita tidak pernah bisa memastikan apakah amalan yang kita lakukan telah sesuai dengan keridhaan Allah. Kita hanya bisa berusaha sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan sunnah Nabi-Nya. Namun demikian, bukan berarti bahwa keridhaan Allah itu sesuatu hal yang tidak bisa dicapai. Usaha kita mencapai keridhaan Allah bukanlah mencari kepastian, tapi merupakan suatu proses yang berkesinambungan tanpa berkesudahan. Ada dua cara untuk menjalani proses tersebut sebagai upaya mencapai keridhaan Allah.
Pertama, mengerjakan hal-hal yang telah disebutkan oleh Al-Qur’an dan hadits sebagai sesuatu yang mendatangkan keridhaan Allah. Ada beberapa petunjuk yang bisa kita ikuti dalam Al-Qur’an dan hadits, di antaranya:
  1. Takut kepada Allah. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Bayyinah ayat 8 yang berarti, “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” Takut kepada Allah ini hanya bisa dirasakan oleh mereka yang benar-benar mengetahui dan merasakan kehadiran Tuhan. Hal ini tercantum dalam Al-Qur’an yang artinya, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 28).
  2. Taqwa kepada Allah. Manusia memang diberi sifat untuk mencintai hal-hal yang menyenangkan di dunia sebagaimana ada di dalam surah Ali Imran ayat 14 yang artinya, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” Namun demikian ada yang lebih baik dari itu semua dan hanya diberikan kepada orang yang bertaqwa, “Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridaan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya” (QS. Ali Imran: 15). Ayat berikutnya (QS. Ali Imran 16-17) menyebut sebagian ciri taqwa, yaitu: memohon ampunan Allah, sabar, benar, taat, dan menafkahkah hartanya.
  3. Beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah merupakan sikap dan perbuatan yang mendatangkan keridhaan Allah, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an, “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal” (At-Taubah: 20-21)
  4. Berbakti pada orang tua, “Keridhaan Allah tergantung pada keridhaan orangtua, dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orangtua” (HR. Al-Hakim).
Tentu ini hanya disebutkan sebagian saja tentang hal-hal apa saja yang bisa dilakukan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Secara umum bisa dikatakan bahwa seluruh perbuatan kita bisa dijadikan sarana untuk mendapatkan keridhaan Allah, jika didasarkan pada niat yang ikhlas semata-mata karena Allah. Dengan kata lain, kita harus membuang jauh-jauh perbuatan yang diniatkan untuk meraih keridhaan selain Allah. Sebagaimana dalam satu hadits disebutkan
Barangsiapa membuat Allah murka untuk meraih keridhaan manusia, maka Allah murka kepadanya, dan menjadikan orang yang semula meridhainya menjadi murka kepadanya. Namun barangsiapa membuat Allah ridha, meskipun mengundang kemurkaan manusia, maka Allah akan meridhainya, dan membuat orang yang murka menjadi meridhainya, sehingga Allah memperindahnya, memperindah ucapannya dan perbuatannya dalam pandangan-Nya” (HR. Ath-Thabrani)
Proses kedua yang bisa dilakukan adalah mengupayakan diri kita sendiri mencapai ridha, yaitu sikap menerima dengan lapang dada dan senang terhadap apapun keputusan Allah. Dalam tradisi sufi, proses untuk mencapai sikap ridha ini dilalui dengan beberapa tahapan atau disebut denganmaqamat. Al-Qusyairi menyebut dalam risalahnya beberapa tahapan, yaitu: taubat, wara, zuhud, tawakkal, sabar, dan ridha. Al-Ghazali dalam  Ihya Ulumuddin menyatakan hal serupa dengan membuat sistematika maqamat yang dimulai dari taubat, sabar, faqir, zuhud, tawakkal, mahabbah, ma’rifat dan ridha. Tokoh-tokoh lain seperi Al-Thusi, Al-Kalabadhi, Ibnu Arabi, dan Ibnu Athaillah juga menyebut ridha sebagai salah satu maqam penting yang harus dilalui seorang sufi.
Siapa pun bisa mencapai maqam ini jika dilakukan secara sungguh-sungguh melalui latihan-latihan spiritual (riyadhah nafsiyah) yang diawali dengan kesungguhan melawan hawa nafsu dan penyakit hati dengan mengarahkan segenap jiwa raga semata-mata kepada Allah. Ada juga yang berpendapat, seperti Ibnu Atha’illah, bahwa sesungguhnya suatu maqam dicapai bukan hanya karena usaha dari seseorang, melainkan semata anugerah Allah SWT. Namun demikian, anugerah Allah ini diberikan kepada mereka yang bersungguh-sungguh untuk mencapai ridhaNya.
Al-Ghazali melihat bahwa proses mencapai ridha ini harus dilalui dengan beberapa tahapan (maqamat). Sehingga setiap maqam merupakan buah dari maqam yang diperoleh sebelumnya. Dalam hal ini, maqam ridha, menurut Al-Ghazali merupakan buah dari mahabbah dan ma’rifatsehingga hati seseorang rela menerima apa saja dan hatinya senantiasa dalam keadaan sibuk mengingat Allah. Dengan demikian, setiap maqam tidak lain adalah sebuah perjalanan spiritual yang membawa kita untuk mengalami setiap tahapan demi tahapan mencapai keridhaan Allah.
Ridha = Bahagia
Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Sesungguhnya Allah SWT – dengan keadilan dan ilmuNya – menjadikan kesejahteraan dan kebahagiaan pada yakin dan ridha; serta menjadikan kesusahan dan kesedihan pada kegalauan, kekesalan, dan kemurkaan.”
Dalam beragam studi tentang kebahagiaan dilakukan penelitian untuk menguji dampak kepemilikan (possession) dan pengalaman (experience) terhadap seseorang. Hasilnya lagi-lagi menegaskan kebijakan pengetahuan agama dan spiritual. Kepemilikan terhadap sesuatu ternyata hanya memberi sensasi kebahagiaan sesaat. Oleh karena itu kenapa orang terkena penyakit shopaholics(gila belanja) karena ingin terus merasakan kegembiraan sesaat yang hilang setelah belanja. Berbeda dengan “pengalaman” yang memberikan dampak lebih permanen terhadap kebahagiaan seseorang. Beragam riset membuktikan bahwa merajut pengalaman penuh makna dalam keseharian adalah salah satu melentingkan kebahagiaan seseorang. Pengalaman yang bermakna ini bisa meliputi segala hal yang terjadi dalam hidupnya dan disikapi dengan penuh ridha.
Hal inilah yang pernah dilakukan oleh sahabat Shuhaib bin Sinan ketika melakukan hijrah, meninggalkan semua hartanya dengan niat penuh ikhlas untuk mencapai keridhaan Allah. Hatinya pun ridha terhadap apa yang sedang dan akan terjadi pada dirinya. Sebagian tafsir mengenai ayat yang disebut di awal tulisan, menyebut tindakan yang dilakukan oleh Shuhaib ini adalah bentuk pengorbanan diri semata-mata karena berharap ridha Allah. Pengalaman semacam inilah yang mengundang kebahagiaan lebih permanen dalam kehidupan seseorang. Dengan ridha, hilanglah segala ketidaksenangan dari hatinya, sehingga yang tersisa hanyalah kegembiraan dan kesenangan dalam hatinya.

CINTA>>>C-i-n-t-----------------------aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!...




Cinta dalah salah satu nama dan sifat Allah yang Maha Suci. Allah Ar Rahmaan, Allah Ar Rahiim, dan Allah Al Waduud. Cinta Allah sangatlah besar, melebihi cintanya Adam dan Hawa, Ibrahim dan Sarah, Yusuf dan Dzulaikha, Qois dan Laila, bahkan Romeo dan Juliet. Cinta Allah melebihi 70 kali kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.
Kadang kala kita mencintai sesuatu (bisa benda, hewan, ataupun manusia), namun yang kita cintai tersebut tidak mencintai kita. Ketika ia tidak mencintai kita kita selalu berusaha, ketika kita nyatakan cinta kita dia menolak, kita bersedih. ketika dia caci kita kita pun bersabar. Sakitnya cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Rasa cinta ini adalah fitrah manusia. Allah jadikan manusia ini mencintai, anak, istri (wanita), emas, perak, kendaraan, sawah ladang. Cinta yang seperti ini adalah cinta yang belum dikelola, cinta yang masih bersandarkan hawa nafsu belum bersandarkan keimanan dan tuntunan Ilahi. AKU CINTA ALLAH. Ah masa sih Mungkin baru cinta dilidah belum cinta dihati. Tapi sudah ada keinginan untuk meletakkan cintanya ditempat yang benar. Ketika seorang hamba menyatakan cintanya kepada Allah, maka Allah akan memberikan ujian-ujian kepada hamba tersebut untuk menguji kebenaran cintanya. Ada hamba Allah yang lulus ujian sehingga bertambah besar cintanya kepada Allah dan Allah pun semakin mencintai dia, ada pula yang gagal melalui ujian, dia memilih mencintai selain Allah dari pada mencintai Allah dan Allah pun berpaling darinya. Dalam menguji hambanya Allah tidak pernah menguji seorang hamba melebihi kemampuannya untuk menanggung ujian tersebut dan Allah dalam menguji hambaNya juga mengasih bocoran soal-soal yang akan diujikan. Allah akan menguji dengan kekurangan makanan dan kesejahteraan, ketakutan dan keamanan, kemiskinan dan kekayaan, sakit dan sehat, intinya semua keadaan adalah ujian dari Allah baik yang kita sukai maupun yang tidak kita sukai.
Untuk menuju cinta Allah, Dia pun telah menberi tahu caranya supaya hambanya tersebut tidak salah jalan, Antara lain :
1. Melaksanakan perintah-perintah Allah yang fardhu, seperti : sholat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat, naikk haji jika ada kemampuan.
2. Melaksanakan amalan sunah atau nafil, seperti : shalat-shalat sunnah, puasa sunnah, sedekah, umrah.
3. Selalu menyebut namanya dengan membiasakan lidah kita dengan Dzikrullah.
4. Membaca kalamNya, yakni AlQuran dengan memahami arti dan mengamalkan isi kandungannya.
5. Mencintai dan mengikuti sunnah-sunnah Nabi-Nya, yaitu Nabi Muhammad saw baik sunnah penampilan fisik, perjalanan hidup, dan apa yang ada dalam dirinya.
6. Berlama-lama dalam bermunajat dan berdoa dalam tahajud.
7. Mencintai makhluk-makhlukNya.
8. Mencintai apa yang dicintai Allah.
Jika Allah mencintai seorang hamba, maka ia akan mengumumkan cintanya dilangit kepada para penduduk langit, sehingga para penduduk langit pun mencintai orang yang dicintai Allah. Lalu malaikat akan mengumumkan kepada penduduk bumi bahwa Allah mencintai hamba tersebut, sehingga penduduk bumi pun akan mencintai orang tersebut. Namun sering kali orang yang dicintai Allah ini adalah orang-orang yang sedikit hartanya, tidak terkenal, banyak orang yang tidak hormat padanya, padahal jika ia menengadahkan tangannya untuk berdoa kepada Allah, Allah pasti akan mengabulkan segala permohonannya, seperti Uwais Al Qorny dan Abu Dzar AlGhifary.
Suatu ketika malaikat Jibril sedang bersama dengan nabi Muhammad saw, lalu lewatlah Abu Dzar AlGhifary r.a, maka Jibril berkata: Wahai Nabi, itukan Abu Dzar! Nabi kaget karena merasa belum pernah memperkenalkan sahabatnya itu kepada Jibril, lalu Nabi berkata : Jibril, kamu kenal Abu Dzar?! jibril pun menjawab : Wahai Nabi, sesungguhnya semua penduduk langit mengenal Abu Dzar AlGhifary semoga Allah merahmati beliau-. Abu Dzar tidak terkenal di bumi namum sangat terkenal dilangit.
  1. Cobalah kita berkata dengan khusuk setelah solat, Wahai Allah hambaMu yang hina ini mencintai Mu, jika belum tertanam cinta ini dihati ulangi lagi sehingga dihati dan pikiran kita hanya ada Allah sahaja.

Sunday, February 23, 2014

Hidup tak selalunya susah



Fa inna maal usri yusra...

Dalam bingkai kepayahan itu masih ada kemudahan..
itu jaminan Allah
dan itulah hakikat sebuah kehidupan..
selepas hujan lebat selalunya udara segar..
hujan tidak berpanjangan
kemarau pun hanya beberapa bulan
duri yang menusuk kaki
akhirnya bisa dikeluarkan juga
yakinlah janji Allah
dalam susah gelisah masaih ada cahaya cerah
dalam masam masih ada manisnya
dalam pahit masih ada tawar
dalam gelap masih ada bintang
dalah gua masih ada obornya
dalam sengsara masih ada senyum 
dalam resah gelisah masih ada tenangnya
setinggi ombak dilaut masih ada pasang surutnya
dalam hujan lebat masih ada yang berlari girang

Inna maal usri yusra
dalam kesukaran itu masih ada kemudahannya
cuma carilah pintunya
kalau tak bertemu pintu pertama
pasti berjumpa juga pintu ketujuh
kan senang hidup ini
kalau kita yakin pada Allah

Sunday, February 16, 2014

Adakah Kita dicintai Allah......?????????????????


Beberapa Tanda Allah Mencintai Seorang Hamba
1. Allah akan menjaganya dari dunia.
Bila Allah mencintai seorang hamba maka Allah akan menjaganya, Allah jaga dia dari dunia yang melalaikannya, Allah jaga ia dari dosa yang akan menghancurkan kehidupannya. Maka dalam setiap detik perjalanan waktu Allah lah yang seharusnyamenjadi tujuan kita. Bukan dunia apalagi hanya sekadar kepuasan sesaat. Nabi bersabda:
“Sesungguhnya Allah akan menjaga hambaNya yang beriman - dan Dia mencintaiNya- seperti kalian menjaga makanan dan minuman orang sakit (di antara) kalian, karena kalian takut pada (kematian)nya.” (HR. Al Hakim, Ibnu Abi’Ashim dan Al Baihaqi).

Allah juga berfirman dalam QS. Al An’am 44:

“ Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am 44)


2. Keshalihan
Ketika Allah mencintai seorang hamba makaAllah akan memberikan kekuatan kepadanya untuk menjadi hamba yang shalih, Allah mudahkan ia untuk berbuat kebaikan, maka ibarat perjalanan keshalihan akan muncul dalam diri seseorang setahap demi setahap, maka ketika kita telah menemukan titik awal kesalehan, jangan hanya berhenti di situ, tapi tetaplah berjuang
Karena itu barulah tanda awal Allah mencintai kita, maka terus berjuang untuk menjadi lebih saleh adalah langkah untuk mendapatkan sepenuhnya cinta Allah

“ Allah memberikan dunia pada yang Dia cintai dan yang Dia benci. Tetapi Dia tidak memberikan (kesadaran ber) agama, kecuali kepada yang Dia Cintai. Maka barangsiapa diberikan (kesadaran ber) agama olehAllah, berarti ia dicintai olehNya.” (HR. Imam Ahmad, Al Hakim dan Al Baihaqi)

3. Memahami Agama
Ketika seorang hamba dicintai Allah maka Allah akan memudahkannya dalam memahami agama, karena cinta Allah adalah bentuk kausalitas dari kecintaan yang mendalam seorang hamba kepada Allah, sejatinya Allah lah yang akan memberikan penerangan dalam hatinya, sehingga setiap ilmu yang dipelajari akan mudah dipahami dan diamalkan.

4. Sulit Melakukan Maksiat

Di antara tanda Allah mencintai hambaNya ialah kesulitan melakukan maksiat. Ia tidak akan bisa melakukan maksiat, dan jika ia terbiasa melakukan maksiat, maka ia akan merasakan itu sangatlah sulit sehingga ia tidak bisa melakukan itu. Itu tanda cinta Allah. Sebagaimana kisah dari sang ManusiaSuper Rasulullah SAW, Allah yang memalingkan Baginda untuk tidak datang ke pesta malam dengan cara memberikan nikmat kantuk dan tertidur di perjalanan.

5. Husnul Khatimah

Di antara tanda Allah mencintai hambaNya adalah, Dia menutup umurnya dengan amal shalih. Tidak semua manusia yang mendapatkan kenikmatan ini. Sebagian manusia menghabiskan umurnya dalam ketaatan, tetapi mati dalam keadaan bermaksiat kepada Allah.

Abu Bakar berkata: ”Jika satu kakiku di dalam surga, dan kaki yang lain di luar surga, maka aku belum aman”

Jika kita melakukan maksiat, takutlah pada kematian, dan hati-hatilah kalau kita mati dalam keadaan melakukan maksiat.

Rasul Bersabda: ”Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memaniskannya”

Sahabat bertanya: ”Apa itu memaniskannya ya Rasulullah?”

Ia berkata: ”Dia akan memberi ia petunjuk untuk melakukan kebaikan saat menjelang ajalnya, sehingga tetangga akan meridhainya-atau ia berkata- orang sekelilingnya” (HR. Al Hakim)

Demikianlah ketika Allah mencintai kita, maka kita harus menyadari bahwa Kita hanyalah manusia biasa, bukan malaikat yang tak memiliki hawa nafsu. Kita adalah manusia, makhluk dinamis yang tak pernah puas dengan keadaan, maka dalam rute perjuangan hidup itu hawa nafsu adalah musuh terberat kita, karena pada hakikatnya ia menyatu dengan diri, yang ketika dikelola akan memberikan energy positif untuk perubahan, namun ketika ia diperturutkan , maka nafsu itulah yang akan menghancurkan kita.
Terakhir, lawanlah hawa nafsu itu tetaplah berjuang untuk sensitive, terhadap pemuasannya yang pada akhirnya mengantarkan kita pada dosa. Selamat berjuang semoga Allah selalu bersama kita.

Saturday, February 1, 2014

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM


Bismillah....
itulah awal,,itulah akhir
itulah permulaan ..dan itulah penghujung
itulah qamar itulah noktah
kerjalah apapun mulailah dengan bismillah
buatlah apapun jangan lupa bismillah
kita tidak akan tersasul diperjalanan dan tidak tersesat didalam pengembaraan
tanpa bismillah bererti kita melupakan segala
tanpa bismillah Kita pasti kehilangan tongkat
tanpa Bismillah kita pasti meraba raba
tanpa bismillah Kita bagai sibuta penuh derita
andai lalai alpa lupa
Busmillah awwaluhu waakhiruhu
kembalilah pada Allah
yang sesat yang lupa
yang ralik yang alpa'
yang sengsara dan menderita
yang sepi yang lagha
yang apa pun saja
kembalilah padanya